TIMES PASURUAN, PANGANDARAN – Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Pandega Pangandaran mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman Virus Nipah, penyakit menular dari hewan ke manusia yang memiliki tingkat kematian tinggi meski kasusnya tergolong jarang.
Melalui akun instagram resmi RSUD Pandega @rsud_pangandaran, menegaskan bahwa Virus Nipah merupakan penyakit nyata dan bukan informasi menyesatkan. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan risiko penularannya serta memahami langkah pencegahan yang tepat.
Virus Nipah diketahui termasuk penyakit zoonosis, yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah menjadi reservoir alami virus ini, sementara penularan juga dapat melibatkan hewan ternak seperti babi.
Selain itu, penularan antar manusia dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh, seperti droplet pernapasan, darah, urine, maupun melalui konsumsi makanan dan minuman yang telah terkontaminasi.
RSUD Pandega menjelaskan bahwa masa inkubasi Virus Nipah umumnya berlangsung antara 4 hingga 14 hari setelah seseorang terpapar. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, serta keluhan umum lainnya. Dalam beberapa kasus, dapat disertai muntah dan sakit tenggorokan.
Jika infeksi berkembang menjadi lebih berat, virus ini dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan gangguan serius seperti penurunan kesadaran, kejang, hingga radang otak yang berisiko fatal.
Tingkat fatalitas Virus Nipah dilaporkan cukup tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Kondisi ini membuat virus tersebut berpotensi membahayakan semua kelompok usia, termasuk anak-anak, sehingga kewaspadaan perlu dibangun secara kolektif.
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus spesifik maupun vaksin untuk Virus Nipah. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah paling efektif dalam menekan risiko penularan.
Imbauan Kewaspadaan
Masyarakat diimbau untuk memastikan kebersihan makanan, terutama dengan mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi serta menghindari buah yang menunjukkan bekas gigitan hewan. Konsumsi daging juga harus dipastikan dalam kondisi matang sempurna.
Selain itu, masyarakat disarankan menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi membawa virus, seperti kelelawar dan babi.
Penggunaan alat pelindung diri saat berinteraksi dengan hewan serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan secara rutin, menjadi langkah pencegahan penting.
RSUD Pandega mengajak masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada dan selektif dalam menyikapi informasi terkait Virus Nipah. Edukasi yang benar, kewaspadaan bersama, dan kedisiplinan dalam menerapkan langkah pencegahan dinilai mampu meminimalkan risiko penularan.
Sebagai fasilitas layanan kesehatan, RSUD Pandega Pangandaran menegaskan komitmennya untuk terus menyampaikan informasi yang akurat dan edukatif, sekaligus mendorong kesadaran publik akan pentingnya deteksi dini dalam menghadapi ancaman penyakit menular berisiko tinggi. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: RSUD Pandega Pangandaran Imbau Masyarakat Tetap Waspadai Virus Nipah
| Pewarta | : Acep Rifki Padilah |
| Editor | : Ronny Wicaksono |