TIMES PASURUAN, JAKARTA – Banyak orang tua masih menganggap remeh kesehatan gigi susu. Alasannya sederhana: “Nanti juga tumbuh yang baru.” Cara pandang ini keliru dan berpotensi merugikan anak dalam jangka panjang. Gigi susu memiliki fungsi penting, mulai dari mengatur struktur rahang hingga mempengaruhi kualitas gigi permanen yang akan datang.
Dirancang untuk Dua Fase Pertumbuhan
Bayi lahir tanpa gigi yang terlihat, tetapi kuncup gigi susu sebenarnya sudah terbentuk sejak dalam kandungan. Gigi pertama umumnya muncul pada usia 6–8 bulan dan terus tumbuh hingga sekitar usia 2,5–3 tahun. Menariknya, saat dilihat melalui sinar-X, gigi permanen sudah “mengintip” di balik gigi susu, siap menggantikan ketika saatnya tiba.
Dua set gigi ini adalah strategi biologis yang cerdas. Gigi susu berukuran kecil dan sesuai dengan rahang anak yang masih mungil. Seiring pertumbuhan wajah dan rahang, gigi permanen yang lebih besar mengambil alih peran untuk mendukung fungsi mengunyah dan berbicara hingga dewasa.
Jika Rusak atau Copot Terlalu Cepat, Dampaknya Nyata
Anggapan bahwa gigi susu boleh rusak karena akan “ditukar” kelak adalah miskonsepsi. Tidak seperti hiu yang bisa berganti gigi seumur hidup, manusia hanya memiliki satu kali pergantian. Jika gigi susu rusak parah hingga harus dicabut sebelum waktunya, ruang untuk gigi permanen bisa terganggu. Hasilnya dapat berupa, gigi berjejal, susunan gigi tidak rapi dan kebutuhan perawatan ortodonti saat remaja (misalnya pemasangan behel)
Selain itu, gigi susu yang sakit dapat mengganggu anak makan, tidur, dan berbicara, serta menurunkan rasa percaya diri karena bau mulut atau rasa nyeri yang berulang.
Dari Evolusi Menuju Ilmu Masa Depan
Ada alasan lain mengapa gigi harus dijaga sejak dini. Manusia modern hidup lebih lama, dan terkadang usia kita melampaui “durasi pakai” gigi alami. Implan dan gigi tiruan memang menjadi solusi, tetapi belum ada yang sepenuhnya menggantikan performa gigi asli.
Saat ini, ilmuwan mengembangkan bidang regenerative dentistry—cabang ilmu yang mempelajari pertumbuhan kembali jaringan gigi. Targetnya bukan sekadar tambal menambal, tetapi menumbuhkan gigi baru atau merangsang regenerasi. Jika sukses, itu bisa mengubah cara kita memahami kesehatan mulut di masa depan.
Namun inovasi tersebut masih dalam tahap penelitian, sementara kerusakan gigi terjadi setiap hari di dunia nyata.
Jadi Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?
Untuk saat ini, langkah terbaik tetap pada prinsip klasik namun efektif:
-
sikat gigi dua kali sehari dengan pasta berfluoride
-
gunakan benang gigi sekali sehari
-
batasi konsumsi makanan dan minuman manis, lengket, dan asam
-
rutin kontrol ke dokter gigi setiap enam bulan
-
mulai edukasi kebiasaan sejak gigi pertama muncul
Kesehatan gigi susu adalah fondasi. Ia mempengaruhi bentuk rahang, perkembangan bicara, nutrisi, hingga kualitas gigi permanen. Merawatnya bukan soal kosmetik, tetapi investasi bagi kesehatan seumur hidup. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Gigi Susu Bukan “Sementara” dan Mengapa Harus Dirawat Sejak Dini
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |